Senin, 10 September 2012



                                          TEORI BEHAVIORAL DAN HUMANISTIK     
                                                                                                        
                                                                       OLEH                                               
                                                                   
                                                                  NUR ASIK
                           
1. a   Terhadap pernyataan  C.R.Rogers  yang memandang   manusia itu mempunyai kemampuan
          belajar  secara alami, penulis berpendapat sebagai berikut :  Pertama-tama  penulis  akan
          mengulang kembali pernyataan  Roger bahwa  tidak ada penjelasan  tentang mengapa
          seseorang berbuat seperti mereka berbuat  dari  penganut aliran behavioral . Bagi penganut
          aliran humanistik seperti Roger menekankan  sumber motivasi  intrinsik sebagai kebutuhan
          seseorang terhadap  aktualisasi diri  (maslow,1970, 1968), kecenderungan aktualisasi  diri 
          bawaan. (Rogers & Freiberg,1994) atau kebutuhan  terhadap penentuan diri sendiri. Dari pers-
          fektif humanistik, memotivasi  berarti  mendorong  sumber daya bagian dalam manusia seperti
          rasa ingin bersaing, kepercayaan diri,  kemandirian,  aktualisasi diri.
                Dua hal tersebut diatas  sepintas sangat bertolak belakang  tetapi  mari kita semua
         Kembali kepada paradigma  aksiomatik yang mengatakan bahwa  semua teori memilki
         Kelebihan dan kekurangan. Masing – masing teori memiliki  titik fokus yang menjadi  pusat
         perhatian apakah kepada  hasil atau proses  dan sebagainya.  Walaupun teori behavioral dan
         humanistik  nampak berbeda  termasuk  teori-teori lain, tetapi  ada kesamaan umum  dalam
         mendefinisikan belajar yang mencakup :
1)      Adanya perubahan  atau kemampuan baru
2)      Keberlangsungan  perubahan tersebut  berlangsung lama atau permanen
3)      Perubahan terjadi karena ada usaha
4)      Perubahan tidak muncul karena faktor pertumbuhan ( Miarso, 2004 550-551)
            Kesimpulannya ialah bahwa  seorang  pengajar harus pintar memilih dan memilah teori yang
       sesuai dengan  bidang yang akan diajarkan. Karena  kembali lagi bahwa tidak ada satu teori
       belajar yang mondominasi  atau unggul dalam semua  bidang kajian.
     
     b  Cara mengaplikasikan perpaduan pendapat diatas dalam pembelajaran dikelas   :
              Secara alami  dalam pengajaran bahasa  contohnya  seorang instruktur  tidak perlu repot
         untuk memilih yang mana harus dipakai duluan dan yang mana dibelakang karena  secara
          otomatis  LAD pelajar akan menyeleksi yang mana  konsumsi  behaviour dan yang mana bagian
          kognisi. Ketika yang dibicarakan menyangkut  pemahaman konsep tentu saja   jalur  kognisi
          perlu dibuka lebar-lebar . Sebaliknya  kalau yang menjadi penekanan adalah skill atau
          ketrampilan maka pasti ruang adalah teori behaviourlah yang  lebih sesuai  untuk dibuka .
         Ibarat  makanan , semua unsur yang ada memberikan manfaat sesuai dengan fungsinya masing-
          masing.

2.  a  Persamaan dengan pendapat tokoh pendekatan behaviorisme ialah :
           1)  Keduanya  sama  sama  mengaktifkan peserta didik  dengan  memberikan kesempatan
                 Kepada siswa untuk mengaktualisasikan  dan menumbuhkan kepercayaan dirinya (versi 
                Coombs) dan proses belajar dapat berlangsung dengan baik bila peserta didik ikut terlibat
                 aktif didalamnya (versi behaviorisme)
           2) Sama sama mengembangkan suasana belajar yang menantang  dan dapat dimengerti ( versi
                Coombs) dan memberikan respon balik terhadap setiap respon peserta didik

 

   b  Perbedaannya ialah  bahwa teori behaviorisme lebih menekankan pada hasil  dan bukan proses
       sementara  Coombs menempatkan proses sebagai hal sangat penting dalam setiap aktivitas
       pembelajaran.
     c   Pengimplementasian  pendapat Coombs ini  ialah dengan :
1)      Menganalisis kebutuhan siswa
2)      Menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan multidimensi karena pen-
dapat ini memandang manusia  dengan pandangan yang sangat kompleks yang mencakup
aspek cognitif, affektif dan psikomotor secara simultan.

3.  a  Tokoh yang terkait dengan  pernyataan ini ialah  Ausebel. Menurut  beliau  belajar haruslah bermakna denga:                                                                                                                                                         
1)      Memilih materi  yang secara potensial bermakna  lalu diatur sesuai dengan tingkat perkem
-bangan  dan pengetahuan masa lalu
           2)   Menyajikannya dalam situasi belajar  yang bermakna.
Pembelajaran bermakna  (meaningful learning) merupakan suatu proses dikaitkannya  informasi
baru  pada konsep –konsep relevan yang terdapat dalam  struktur kognitif peserta didik.proses belajar tidak sekedar menghafal berbagai konsep atau fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan
menghubungkan konsep –konsep  untuk memperoleh pemahaman utuh sehingga konsep yang dipelajari  akan difahami secara baik  dan tidak mudah dilupakan. Para pendidik atau instruktur perlu
terus memahami dan menggali konsep-konsep  yang telah dimiliki peserta didik dan membantu mereka memadukannya secara harmonis dengan pengetahuan baru yang  akan dipelajarinya. Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran bermakna  meliputi :
a)      Menentukan tujuan pembelajaran
b)      Mengidentifikasi karakteristik peserta didik
c)       Memilih materi ajar
d)      Menentukan topik
e)      Mengembangkan bahan ajar
f)       Mengatur topik-topik
g)      Melakukan penilaian proses
Semua ini perlu dilakukan dengan   target memahami  dan bukan menghafal, disusun mulai dari yang
sederhana  ke yang lebih kompleks dan rumit dan memperhatikan perbedaan individu peserta didik untuk  pemberian perlakuan khusus jika diperlukan.

      b  Cara pengimplementasiannya dalam pembelajaran dikelas ialah  dengan menerapkannya
          melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
1)      Mengukur kesiapan peserta didik
2)      Memilih materi-materi kunci
3)      Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai  dari materi baru itu
4)      Memberikan pandangan umum tentang materi yang akan diberikan
5)      Memakai advance organizers
6)      Membelajarkan peserta didik memahami konsep dan prinsip ( Bambang .W, (2008:73)
        

4. a  Landasan Psikologi yang mendasari  pendapat  Bruner ialah teori belajar kognitif  dengan 
         asumsi dasar bahwa setiap orang  telah  memiliki pengetahuan dan pengalaman  didalam       dirinya yang tertata dalam struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila  materi pelajaran yang  baru bersesuaian dengan struktur kognitif  yang sudah dimiliki oleh  peserta didik.
     b   Perbedaannya dengan pendapat Piaget tentang kemampuan  pemorolehan bahasa anak  ialah:
           Menurut Piaget  perkembangan kognitif  merupakan suatu proses genetika yaitu proses yang
          didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistim Syaraf.  Dengan bertambahnya
           umur, maka susunan syaraf seseorang akan  semakin kompleks  dan  hal ini memungkinkan
           terjadinya peningkatan  pada kemampuannya (Traves  dalam Toeti, 1992:28)
           Secara umum  untuk belajar sesuatu tidak perlu menunggu sampai  peserta didik mencapai
           tahap perkembangan tertentu. Yang penting  bahan pelajarannya tertata dengan baik  maka
           dapat diberikan  kapan saja. Dengan kata lain  perkembangan kognitif seseorang  dapat
           ditingkatkan dengan jalan mengatur  bahan belajar yang akan dipelajari  dan menyajikannya
sesuai dengan tingkat perkembangannya.                                                                                                 Sedangkan menurut Bruner perkembangan   kognitif  seseorang terjadi  melalui tiga tahap yang  terkait dengan  cara Seseorang memandang lingkungan yaitu :
1)Tahap enaktif, peserta didik  melakukan aktivitasnya dalam  kaitannya dengan upaya    memahami lingkungan secara langsung
2)Tahap ikonik, peserta didik  melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal
3)Tahap simbolik, peserta didik telah mempunyai  gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh  bahasa dan logika dan menggunakan simbol dlam berkomunikasi  yang semakin lama-semakin dominan untuk kemudian sampai kepada pemahaman gagasan abstrak  sampai teori, penafsiran,  analisis dan seterusnya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.
               
     c   Persamaannya ialah :  Pada langkah-langkah pembelajaran dalam  menurut keduanya  menem-
          patkan  penentuan tujuan belajar pada urutan pertama. Begitu pula pada urutan keempat
          masing-masing menempatkan penentuan  dan perancangan   kegiatan belajar  sesuai topik.

5.   a  Kesamaan pendapat  Vigostky dengan  Piaget dalam fungsi kognitif ialah :
           bahwa Piaget  banyak menerima  argumen Vigotsky dan  keduanya sependapat bahwa  bahasa  
           dapat digunakan dengan cara  egosentrik  dan  pemecahan masalah (problem –solving)
     
       b  perbedaannya ialah : pembicaraan anak  pada diri sendiri saat bermain  oleh  Piaget
            disebut sebagai  percakapan egosentrik yang merupakan indikasi lain bahwa  anak kecil 
            belum dapat melihat  dunia melalui mata orang lain.  Mereka  bicara  tentang apa yang
            terjadi pada dirinya  tanpa perduli  kepentingan dan perhatian orang disekitarnya. Bagi  
            Vigotsky  pembicaraan anak pada diri sendiri dinilainya sebagai  sebuah proses perkembangan
            kognisi anak dengan  menggerakkan anak  kearah pengaturan diri sendiri,  kemampuan 
            membuat rencana,  melakukan monitor,  dan mengarahkan  pikiran dan cara pemecahan
            masalah sendiri  ketimbang sebagai  tanda  ketidak matangan kognisi anak.

       c    Cara penerapan konsep  Vigotsky  dalam pembelajaran formal disekolah ialah :
             Dengan mengarahkan para guru  melakukan lebih dari sekedar  menata lingkungan belajar
             sehingga  anak anak  dapat menemukan sendiri  hal-hal yang baru.  Anak-anak  tidak boleh
             dan tidak seharusnya  diarahkan  untuk mencipta atau menemukan  pengetahuan  yang
             telah ada dalam lingkungan dan budaya mereka. Vygotsky memandang guru , orang tua dan
             orang dewasa lainnya sebagai  inti dari pembelajaran dan perkembangan anak (Karpov &
             Haywood, 1998)
                   Anak-anak harus diposisikan  pada situasi  dimana mereka harus mencapai  pemahaman,
             tetapi dukungan dari teman mereka atau dari guru harus selalu diatur dan disiapkan .
             Kadang-kadang  guru terbaik datang dari temannya sendiri,  yang baru saja menggambarkan
             suatu masalah  karena mungkin saja  teman anak tersebut  sedang menyentuh zona atau fase
             perkembangan proximal (zone of proximal development) pelajar tersebut . Anak-anak  harus
             dibimbing  melalui berbagai penjelasan,  demonstrasi,  dan kerja sama dengan  anak-anak lain
             yang memungkinkan terciptanya  belajar bersama (cooperative learning). Menyuruh anak
            belajar dengan  seseorang yang sedikit lebih baik  pada saat  ada kegiatan juga termasuk ide
            yang baik. Kemudian anak-anak harus diberi semangat untuk berbicara  atau menggunakan
            bahasa untuk mengatur cara mereka berpikir, dan menyampaikan apa yang ingin mereka
            sampaikan.Dialog dan diskusi  merupakan jalur penting  menuju belajar ( Karpov & Bransford,
            1995 ; Kozulin & Presseisen, 1995;  Wink & Putney,2002).


                                                                       Reference

                                                                        
Karpov, Y.V., & Bransford, J.D. (1995). L.S. Vigotsky and the doctrine of empirical and  theoritical   learning. Educational Psychologist, 30, 61-66

 Kozulin, A., & Falik, L.(1995). Dynamic  cognitive assessment of the child. Current  Directions, 4:192

Maslow,A.H. (1970). Motivation and personality (2nd ed.). New York: Harper and Row

Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai  Benih Teknologi Pendidikan.  Jakarta : Prenada Media

Rogers,C.R., & Freiberg,H.J. (1994)  Freedom to Learn (3rd ed.). Columbus, OH : Charles E.Merrill
                                                                                                                                            

Wink,J., & Putney, L. (2002). A Vision of Vigotsky. Boston : Allyin and Bacon




WASSALAM
                                                                                                                                                   


1 komentar: